Mengubah Kayu Sisa menjadi Lampu Tidur Cantik

Bahan sisa bukan berarti tidak berguna. Justru bisa menjadi peluang usaha seperti yang telah dilakukan Yaniar Fernanda, 29, warga Jogja. Buktinya, selama enam bulan upayanya membangun, bisnisnya dapat dibilang sebagai pemula yang sukses. Seperti apa bentuk usaha yang dilakoni Yaniar?

Perempuan berhijab yang akrab disapa Nia ini awalnya bekerja di sebuah toko mebel di wilayah Umbulharjo, Kota Jogja. Setiap hari ia berjumpa dengan material mebel yakni kayu yang membuka ide kreativitas kala itu untuk membuat suatu produk yang bernilai fungsional, unik serta simpel. Banyak ide mencuat dari pikirannya untuk membuat berbagai macam produk kreatif, sampai pada akhirnya ia menemukan ide untuk membuat lampu kayu yang berbeda daripada yang lainnya dengan mengusung brand TILEM Indonesia.

Tilem sendiri dimaknai sederhana oleh Nia. Adalah malam yang gelap dalam bahasa kawi atau dalam bahasa jawa diartikan sebagai tidur (ungkapan halus). Tilem menjadi sebuah nama yang diharapkan akan menjadi matahari yang terus bersinar di malam yang gelap atau sebagai sumber cahaya. Tilem berusaha dihadirkan untuk menjadi “teman” beraktifitas setiap hari, setiap orang di setiap waktu, bahkan di malam hari sekalipun.

Nia melanjutkan, meski telah bergerak sejak Januari lalu, namun lampu kayu produksinya tersebut baru resmi dilaunching bersamaan dengan pergelaran INACRAFT 2017 di JCC, Jakarta April lalu. Berawal dari saat itulah Tilem semakin memeroleh banyak respon positif dari masyarakat dengan berbagai keunikan di awal perkenalan di dunia usaha. Salah satu yang unik yakni keberadaan Kala (ikon laki-laki) dan Lana (Perempuan).  Keduanya merupakan ikon spesial dari Lampu Tilem Indonesia sebagai ciri khas yang unik dan menarik.

Pengalaman yang belum terlalu banyak diperoleh Nia, membuat dirinya sempat minder dan putus asa setiap kali memulai jalankan usaha. Namun dorongan yang kuat untuk meneruskan usahanya tersebut sedikit demi sedikit bermunculan. Salah satunya melalui event INACRAFT yang sekaligus menjadi waktu kelahiran TILEM Indonesia. Pameran INACRAFT di Jakarta tersebut sebelumnya harus dilalui melalui kurasi ketat dari Kementerian Koperasi dan UKM. Setelah lolos, Tilem diberikan kesempatan untuk mempromosikan produknya lebih luas lagi selama beberapa hari dalam pameran.

Menjadi keberuntungan tersendiri bagi Nia, dari pameran tersebut lantas membuka banyak link dengan sejumlah kustomernya baik kostumer individual maupun kolektif (perusahaan). Kostumer mayoritas tertarik dengan keunikan produk tilem yang dipajang saat pameran. Permintaan tak hanya dari dalam negeri, namun juga dari luar negeri yang mencapai 50 hingga 60 orderan saat itu.

Produk utama Tilem merupakan lampu kayu yang diproduksi dengan memanfaatkan reclaimed hardwood yakni kayu sisa yang tidak sempurna. Lampu kayu dengan tekstur kayu asli dan alami menjadi ciri khas  yang unik pada setiap produk lampu tilem. Terdapat beberapa macam produk diantaranya yakni lampu Kala dan Lana, serta Lampu Rangka.

 

Lampu Kala dan Lana merupakan lampu dengan karakter laki-laki dan perempuan berdimensi : 20 x 11.5 x 10 cm (PxLxT). Dibuat dengan berbahan kayu Mahoni dan Kayu Sonokeling yang memilki serat-serat alami sehingga menimbulkan tekstur khas dan unik. Melalui proses finishing melamin clear doff coating membuat lampu Kala menjadi tahan terhadap cuaca, anti air, tahan serangan jamur dan serangga. Keduanya pun dilengkapi dengan kabel berstandar SNI, Lampu LED 3W 220V berwarna putih.

Sementara, dikatakan Nia sejumlah kustomernya cenderung memilih jenis lampu rangka untuk dibawa pulang menghiasi ruangan di rumah masing- masing. Berbeda dengan lampu Kala dan Lana, lampu Rangka terlihat lebih elegan namun juga menyenangkan. Kostumer memungkinkan untuk berganti-ganti motif (Art Light) sesuai dengan mood. Karenanya, lampu jenis ini disebut pula dengan lampu anti bosan. Dengan dimensi : 25 x 8 x 12,5 cm (PxLxT) lampu rangka memiliki bahan kayi lain, yakni kayu pinus. Sementara insert yang digunakan yakni bahan Acrylic dengan tebal 2mm berwarna putih transparan. Serta lapisan kayu Jati yang diproses dengan teknik laser engraving dengan hasil yang detail.

Untuk proses produksinya, setiap lampunya dibutuhkan waktu produksi maksimal yakni dua minggu karena sebagian besar dikerjakan secara “handmade” dengan tetap memperhatikan setiap detailnya. Selain itu, pemesanan khusus (Custom Order) juga menjadi fasilitas Lampu Tilem untuk memproduksi desain khusus permintaan kostumer, sesuai dengan keinginan dan kebutuhan. Berdasarkan pengalaman, kostumer memesan produk biasanya menyesuaikan profesi mereka untuk diaplikasikan pada karakter lampu Kala dan Lana, misalnya profesi Dokter, Polisi, Tentara, hingga Jurnalis.

Dengan proses handmade dan custom yang ditawarkan Tilem, kisaran harga produk pun menyesuaikan. Untuk varian lampu karakter Kala dan Lana dihargai Rp275.000 per item, sementara untuk lampu Rangka yakni mulai Rp450.000. Pengiriman selama ini dilakukan dengan packaging berupa kardus dengan lapisan foam untuk menjaga keutuhan produk agar tak mudah rusak ataupun patah.

Waktu enam bulan berjalan pun diakui masih terus menjadi ajang belajar bagi alumni Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, UGM tersebut.  Kostumernya yang banyak tersebar di Jawa, Bali, Sumatra, dan beberapa berasal dari Singapura hingga Jepang. Dengan modal awal kurang dari Rp10 juta pada awal 2017 lalu, kini Nia bisa meraih sekitar Rp20 juta setiap bulannya dengan sebanyak 50-60 item terjual secara online.

Meski begitu, Nia mengaku masih banyak hal yang perlu menjadi catatan. Salah satunya yakni dalam memenuhi kebutuhan bahan baku dimana masih mengandalkan bahan-bahan kayu reclaimed yang tak mudah untuk didapatkan, karena mesti menggunakan kayu sisa yang tetap berkualitas.

Perkembangan Produk Multi Fungsi

Tak ingin berhenti sampai pada tahapan saat ini, Nia pun ingin lebih banyak berkreasi lewat produknya tersebut. Diungkapkannya, ia ingin membuat lampu lebih memiliki banyak inovasi. Bukan hanya dapat dimanfaatkan sebagai lampu tidur, namun juga sebagai lampu dekorasi misalnya. Secara teknis dan kemanfaatannya pun direncanakannya untuk mengembangkan jenis lampu emergency yakni lampu penyimpan daya yang tetap dapat dimanfaatkan ketika listrik padam.

Selain keinginan untuk dapat mengembangkan produk, Nia juga ingin terus berperan dalam memanfaatkan sesuatu bahan yang tak lagi dipakai untuk menjadi barang bernilai guna.

“Ada harapan membuat produk yang bisa bernilai lebih dari hanya sekedar bahan sisa saja. Karena material utamanya yakni kayu, mungkin juga bakal terpikirkan untuk menggerakkan kampanye menanam kembali. Supaya ada misi berkelanjutan dari usaha ini,” kata Nia.

(berbagai sumber)

Leave a Comment